Essai

Merintis Startup IoT : Berani?

Di Indonesia, keberadaan “Internet of Things” atau IoT bisa dikatakan
antara ada dan tiada. Dikatakan ada, karena sebagian masyarakat sudah mengenal serta hidup bersama IoT dan dikatakan tiada karena sebagiannya lagi sama sekali belum mengenal atau tidak akrab dengan IoT.

Padahal, IoT bisa ditemukan di kantor-kantor yang melek perkembangan teknologi baru, walaupun masih jarang ditemukan pada fasilitas publik. Lokasi ditemukannya IoT yang tidak tersebar merata ini merupakan salah satu alasan mengapa IoT di Indonesia masih seperti antara ada dan tiada.

Alasan lain yang mungkin juga menjadi sebab situasi ada dan tiada ini adalah bahwa kebanyakan produk IoT yang beredar di Indonesia saat ini adalah produk impor atau lisensi dari luar negeri. Wajar jika di benak para penggunanya timbul pertanyaan yang cukup menggelitik, “Produk ini buatan mana, ya?” seolah ada keraguan bahwa IoT yang dipakai akan mampu menunjang kebutuhan bisnis mereka.


Salah satu perusahaan yang menerapkan IoT adalah Rumah Sakit Indriati
yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah.1 Salah satu tantangan yang dihadapi RS Indriati adalah stabilitas jaringan listrik. Untuk menjawab tantangan serta mendukung transformasi digital dalam pengelolaan energi, RS Indriati memilih platform EcoStruxture dari Schneider Electric. Untuk menangani sektor energi, RS Indriati menerapkan EcoStruxture Power Solution.

Selain itu, solusi lain yang digunakan RS Indriati adalah EcoStruxture Building. Dengan platform ini, RS Indriati mampu menghemat energi dan biaya operasional hingga 30% per tahunnya.


Dengan memanfaatkan IoT, RS Indriati sudah selangkah lebih dekat
mencapai visinya sebagai rumah sakit unggulan bertaraf internasional. RS Indriati telah menunjukkan bahwa penggunaan IoT benar-benar menguntungkan dari segi energi, efisiensi, bahkan finansial. RS Indriati memilih Schneider Electric karena konsep yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut sesuai dengan kebutuhan RS Indriati.

Ditambah lagi, Schneider Electric memiliki tenaga ahli yang andal dan solusi yang terintegrasi. Satu hal yang disayangkan adalah penyedia IoT yang dipilih RS Indriati ialah perusahaan yang berasal dari luar negeri.

Tidak ada yang salah dengan RS Indriati yang memilih Schneider
Electric sebagai penyedia IoT, malahan ini bisa menjadi pilihan yang bagus.

Namun, apa mau dikata bila belum ada perusahaan dalam negeri yang
menyediakan IoT selengkap Schneider Electric. Apakah RS Indriati harus
menunggu sampai perusahaan penyedia IoT itu benar-benar ada di Indonesia? Jika perusahaan itu sudah ada, apakah perusahaan itu dapat menjamin bahwa semua yang dibutuhkan oleh RS Indriati sudah tersedia? Jawabannya, belum tentu!


Memilih penyedia IoT dari luar negeri yang terbukti andal dengan rekam jejak yang baik adalah pilihan yang tepat untuk saat ini, meskipun biayanya terbilang mahal untuk jangka pendek. Untuk jangka panjangnya, ini cukup menghemat biaya pengeluaran ketimbang tidak menggunakan IoT sama sekali.

Menunggu hingga perusahaan IoT benar-benar ada di Indonesia cukup membuang waktu dan tanpa disadari perusahaan tersebut telah menggunakan energi serta biaya secara boros. Seperti pepatah mengatakan, “ikan sepat, ikan gabus”, semakin cepat semakin bagus. Semakin cepat RS Indriati mengimplementasikan IoT, maka
semakin cepat RS Indriati menggapai predikat sebagai rumah sakit bertaraf internasional.


Beralih dari implementasi IoT, fenomena menjamurnya startup yang
dibangun oleh generasi muda telah mengubah cara hidup orang banyak. Sebut saja startup unicorn Gojek. Kita bisa melihat bagaimana Gojek mempertemukan pelanggan yang membutuhkan transportasi dalam waktu singkat dan mudah dengan pengendara yang siap mengantarkan pelanggan kemana pun.

Gojek tidak hanya memberikan layanan transportasi, tetapi juga layanan lain, salah satunya GoFood. Dengan layanan GoFood, konsumen bisa langsung memesan makanan yang terdaftar dalam GoFood tanpa harus repot-repot pergi sendiri, dan penjual yang produknya dibeli melalui GoFood merasakan peningkatan angka penjualan karena produk mereka memiliki kelebihan dibandingkan produk sejenis yangtidak menyediakan layanan antar GoFood.

Makanan pun bisa sampai ke tempat konsumen dengan selamat. Startup unicorn lain seperti Tokopedia dan Bukalapak juga menawarkan solusi belanja yang lebih mudah dengan sistem pasar online.


Konsumen merasakan kemudahan mencari dan membeli barang yang diinginkan sementara pemilik toko online merasakan kemudahan untuk menjual produknya.


Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak adalah startup yang berhasil mendapat
predikat sebagai startup unicorn. Mereka adalah beberapa kisah sukses dari startup yang ada di tanah air. Masih banyak startup lain baik yang baru berdiri hingga sudah berjalan beberapa tahun.

Startup ini muncul sebagai solusi atas permasalahan yang ada dalam masyarakat. Mereka tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mengubah cara hidup masyarakat.


Menjadi pendiri dan CEO dari startup adalah tren pekerjaan di kalangan
anak muda saat ini. Banyak anak muda yang pandai menilik masalah dalam masyarakat, bahkan masalah mikro sekalipun dan berambisi untuk mengatasinya dengan solusi yang ditawarkan melalui startup. Meskipun masih muda, namun mereka mampu membawa dampak positif serta meningkatkan kualitas hidup orang banyak. Melihat potensi startup yang cukup besar di Indonesia, kemunculan startup IoT dalam negeri merupakan angin segar bagi perkembangan IT tanah air.


Belum banyak anak muda yang berani menawarkan IoT sebagai produk
kunci startup mereka. Ada beberapa tantangan bagi pemilik ide bisnis IoT. Salah satu tantangannya adalah modal usaha. Membangun startup IoT membutuhkan modal yang lebih besar dibandingkan dengan membangun startup software house karena IoT berkolaborasi dengan perangkat keras.

Namun, modal usaha tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengurungkan niat membangun startup IoT. Kenapa? Karena sudah banyak platform dalam negeri yang mempertemukan investor dengan pemilik ide bisnis. Kemudahan ini seharusnya membuat pendiri
startup IoT tidak ambil pusing mengenai modal usaha.


Tantangan berikutnya adalah minimnya pasar IoT. Rendahnya
permintaan akan IoT juga menjadi pertimbangan dalam membangun bisnis IoT.

Tantangan ini kemudian memunculkan lagi tantangan baru yakni bagaimanamengedukasi masyarakat mengenai manfaat IoT. Dengan mengedukasi masyarakat, permintaan pasar IoT akan meningkat.

Menciptakan pasar memang membutuhkan waktu namun edukasi terhadap masyarakat juga menjadi nilai positif sebagai fungsi sosial startup. Dukungan dari beberapa pihak sangat dibutuhkan untuk meningkatkan minat generasi muda dalam pengembangan IoT melalui pendirian startup IoT.

Salah satunya adalah pemerintah. Demi mendukung perkembangan IoT dalam negeri, pemerintah harus menyediakan sarana dan fasilitas untuk menunjang pemakaian IoT. Terus menggencarkan program smart city di Indonesia adalah langkah yang cemerlang untuk membuat pendiri startup IoT yakin bahwa masyarakat sudah siap dengan teknologi yang lebih upgrade.

Investor turut berperan dalam mendukung perkembangan startup IoT. Investor harus terbuka terhadap perkembangan teknologi khususnya IoT dan memandang bahwa bisnis IoT adalah bisnis yang profitabel di masa yang akan datang. Media, khususnya yang berkecimpung di dunia teknologi sangat berperan dalam memasyarakatkan
IoT.

Nantinya, IoT sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dan turut
mendorong otak bisnis generasi muda untuk membangun startup IoT.

Daftar Pustaka
Fachrizal, Rafki. 2018. “RS Indriati : Mewujudkan Visi lewat Efisiensi Energi”.


Info Komputer edisi Oktober 2018.

Tags

Tiara Dewangga

Anggota Departemen EO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close